PREP PROGRAM OFFERED

International Language Center menyediakan berbagai International Testing Program Preparation yang paling banyak dicari oleh para calon pelamar beasiswa ataupun penerima beasiswa. Program Test Prep yang kami sediakan adalah:

  1. ACE THE TOEFL® iBT TEST

  2. ACE THE TOEFL® cBTTEST

  3. ACE THE GMAT® General Test

  4. ACE THE GRE ® General Test

  5. ACE THE SAT® General Test

  6. ACE THE IELTS Academic Test

  7. ACE THE TOEIC® TEST

Selain Test Prep Program, ILC juga menyediakan English Training lainnya yang sangat berhubungan dengan dunia akademis atau materi yang akan diperlukan ketika melanjutkan studi di Luar Negeri, yaitu:

  1. ACADEMIC ENGLISH

  2. Integrated Conversation

Tidak hanya pada dunia akademis, bahkan kami pun menyediakan English Program untuk aplikasi di dunia bisnis, yaitu:

  1. Business Presentation

  2. Business Communication

  3. Business Letter

  4. Business Meeting & Negotiation

  5. Dan materi business English lain yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan siswa.

Kapasitas ruang kelas maksimal adalah 6 orang. Dengan demikian, suasana belajar diciptakan lebih kondusif dan efektif dengan jumlah siswa yang tidak banyak maka peningkatan score di dalam Testing Prep program akan lebih progressive.

More Information, come or call us to below address:

International Language Center

Jl. Gubeng Kertajaya IX/59 Surabaya.
Phone: 031-5013917. Email: ilcsurabaya@yahoo.com

Lihat Peta.

ILC BEROPERASI MULAI PUKUL 09.00 s.d 19.00 UNTUK HARI SENIN s.d JUMAT DAN 09.00 s.d 14.00 UNTUK HARI SABTU Untuk calon peserta test dan training, dapat melakukan pendaftaran pada jam kerja yang tertera di atas. Alamat sekarang: Jl. Kertajaya IX/59, Surabaya.

LEGAL USED OF TOEFL® CERTIFICATION

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari ETS melalui advokat-nya Suryomitro & Co,  ILC menginformasikan kepada masyarakat bahwa TOEFL® Score hanya boleh dikeluarkan oleh ETS.

Lembaga manapun termasuk iBT testing center dilarang mengeluarkan / memproduksi certificate atas nama TOEFL® test dalam bentuk apapun, baik PBT, CBT dan apalagi iBT.

Oleh karena tidak diperbolehkannya lembaga mengeluarkan sertifikasi test atas nama TOEFL® Test, kecuali ETS,  maka TOEFL® score yang seharusnya berlaku resmi adalah TOEFL® ITP, TOEFL® PBT dan TOEFL® iBT yang langsung dikeluarkan oleh ETS.  Maka institusi pendidikan dan ataupun institusi kerja di Indonesia harus mulai mengevaluasi persyaratan calon mahasiswa ataupun calon karyawan mengenai TOEFL® score certification yang berlaku.

Banyak aplikasi beasiswa luar negeri yang masih melampirkan syarat score TOEFL® PBT, TOEFL® CBT atau TOEFL® iBT, tetapi percayalah bahwa score yang mereka maksudkan adalah score yang dikeluarkan langsung oleh ETS, bukan oleh lembaga lain. Dan karena TOEFL® CBT score sudah tidak lagi dikeluarkan oleh ETS sejak tahun 2006, maka TOEFL score yang berlaku hanya TOEFL® PBT score dan TOEFL® iBT score. Institusi di Luar Negeri akan menuliskan syarat TOEFL® ITP score jika yang diminta adalah TOEFL® ITP score. Tetapi jika yang tertulis adalah TOEFL® PBT score, maka yang dimaksud adalah score Official TOEFL® PBT exam. Official TOEFL® PBT exam kini tidak disediakan di Indonesia. Cek wilayah penyelenggara TOEFL® PBT exam.

Berdasarkan penjelasan di atas, maka ILC akan mengeluarkan sertifikasi test dengan nama Testing English as A Foreign Language yang menggunakan format Computer-Based Test.

Strategies for Application to Graduate Studies in USA

There are some strategies that must be noticed by all applicants who wish to enter the graduate studies in USA as follow:

  • Start early – 18 months to two years is not too soon!
  • Use references to find institutions that closely match your specialty and grant programs or research grants that apply specifically to your field. Do not apply to programs just because they exist but because they match your interests and expertise.
  • Try to take standardized examinations as early as possible. TOEFL and GRE or GMAT is essential.
  • If you have published research, documented music performances, an art portfolio or other evidence of achievement, find a way to submit them as part of your application.
  • Ask your educational adviser to offer suggestions about your application and the documents that should accompany it.
  • Try to do everything that the university requests in its application procedure. If you cannot comply with a request, explain why and suggest alternatives.
  • Emphasize your academic and research achievements, your plans for your academic and research work, and your plans for the future. At the graduate level, the primary reason for awarding financial aid is merit, not need. Be honest and accurate about the level of your need, but place emphasis on your academic promise rather than your need for total funding.

Emphasize your academic and research achievements, your plans for your academic and research work, and your plans for the future. At the graduate level, the primary reason for awarding financial aid is merit, not need. Be honest and accurate about the level of your need, but place emphasis on your academic promise rather than your need for total funding.

The appearance of your application is important. Try to type or print neatly all information requested. Never send copies of letters, but send originals addressed to the appropriate person in the academic department or graduate admissions office.

Source: http://www.educationusa.or.id

ERASMUS MUNDUS SCHOLARSHIP

Program Erasmus Mundus adalah sebuah program kerjasama dan mobilitas dalam bidang pendidikan tinggi yang bertujuan untuk mempromosikan Uni Eropa sebagai pusat keunggulan ilmu di dunia. Program Erasmus Mundus dibiayai oleh Komisi Eropa – lembaga eksekutif Uni Eropa – dan terdiri atas Kegiatan 1 sampai dengan 4  (untuk info lengkap, akses http://ec.europa.eu/education/programmes/mundus/index_en.html#2).

Brosur ini hanya mengulas “Kegiatan 2”, yaitu skema Beasiswa Erasmus Mundus yang terbuka bagi mahasiswa/i dan akademisi asal negara-negara ketiga untuk studi di Eropa.

APA itu Beasiswa Erasmus Mundus?

Beasiswa Erasmus Mundus adalah bantuan hibah yang bertujuan untuk mendorong dan membuka kesempatan kepada mahasiswa/i lulusan S1 yang memenuhi syarat dari negara-negara ketiga untuk mengikuti Program-program Magister Erasmus Mundus tertentu di Eropa dalam jangka waktu 1-2 tahun.

Tersedia pula dana untuk para akademisi guna melaksanakan tugas mengajar atau penelitian dan kegiatan ilmiah di lembaga-lembaga yang turut serta dalam Program-program Magister Erasmus Mundus.

SIAPA yang dapat turut serta?

Mahasiswa/i:

  • Warga negara yang berasal dari negara-negara non-Eropa;
  • Bukan terdaftar sebagai penduduk di Negara Anggota Uni Eropa manapun;
  • Belum pernah melakukan kegiatan utamanya (kuliah, bekerja, dll) selama lebih dari 12 bulan selama lima tahun terakhir di Negara Anggota Uni Eropa manapun;
  • Telah menyelesaikan pendidikan tingkat S1. Bagi mereka  yang telah mendapatkan gelar kesarjanaan pada tingkat akademik yang lebih tinggi juga dapat mendaftar pada Program Magister Erasmus Mundus, selama kriteria penerimaan untuk program tertentu memperbolehkannya;
  • Telah diterima atau telah terdaftar pada sebuah Program Magister Erasmus Mundus (lihat bagian tentang “BAGAIMANA cara mengajukan permohonan?” di bawah).

Akademisi:

  • Warga negara yang berasal dari negara-negara non-Eropa;
  • Bukan terdaftar sebagai penduduk di Negara Anggota Uni Eropa manapun;
  • Belum pernah melakukan kegiatan utamanya (kuliah, bekerja, dll) selama lebih dari 12 bulan selama lima tahun terakhir di Negara Anggota Uni Eropa manapun;
  • Memiliki pengalaman akademik dan/atau profesional yang sangat baik;
  • Akademisi dan tenaga profesional yang mengajar atau melakukan penelitian.

APA yang dimaksud dengan “warga negara dari negara-negara non-Eropa”?

“Warga negara dari negara-negara non-Eropa” adalah warga negara yang berasal dari semua negara selain dari:

  • 27 Negara Anggota Uni Eropa (Belgia, Republik Ceko, Denmark, Jerman, Estonia, Yunani, Spanyol, Perancis, Irlandia, Italia, Siprus, Latvia, Lithuania, Luksemburg, Hungaria, Malta, Belanda, Austria, Polandia, Portugal, Slovenia, Slovakia, Finlandia, Swedia, Kerajaan Inggris, Rumania dan Bulgaria);
  • Negara-negara EEA-EFTA (Islandia, Liechtenstein dan Norwegia);
  • Negara-negara kandidat anggota Uni Eropa (saat ini Kroasia dan Turki).

APA yang dimaksud dengan Program Magister Erasmus Mundus? APA saja nilai tambahnya?

  • Program-program Magister Erasmus Mundus merupakan program-program studi yang terpadu pada tingkat magister (tidak diperuntukkan bagi tingkat S1 dan S3) yang ditawarkan oleh Konsorsium Magister Erasmus Mundus;
  • Mahasiswa/i akan menjalani masa kuliah di sekurang-kurangnya dua dari tiga lembaga pendidikan yang ikut serta dalam program ini yang terletak di dua negara berbeda. Dalam suatu konsorsium yang minimum terdiri atas tiga lembaga mitra (A, B, C), kombinasi mobilitas biasanya adalah A+B, A+C, B+C atau A+B+C; Akademisi tidak diwajibkan, namun biasanya ditawarkan untuk melaksanakan sebagian dari pekerjaan ilmiah mereka di lembaga pendidikan kedua dalam konsorsium;
  • Program-program Magister Erasmus Mundus akan menghasilkan pemberian gelar kesarjanaan ganda atau bersama;
  • Sebuah Program Magister Erasmus Mundus terdiri atas 60 sampai dengan 120 kredit European Credit Transfer System (ECTS) pada tingkat magister yang memerlukan jangka waktu pendidikan selama satu atau dua tahun akademik;
  • Program-program Magister Erasmus Mundus mencakup berbagai macam disiplin ilmu: ilmu pertanian dan kehutanan, ilmu bisnis dan manajemen, ilmu komunikasi dan informasi, pendidikan dan pengajaran, teknik dan teknologi, humaniora, hukum, dll.

APA yang dimaksud dengan Konsorsium Magister Erasmus Mundus?

Konsorsium Magister Mundus Masters adalah suatu kelompok yang terdiri atas sekurang-kurangnya tiga lembaga pendidikan tinggi dari tiga negara Eropa yang berbeda yang telah dipilih oleh Komisi Eropa untuk melaksanakan Program Magister Erasmus Mundus.

BERAPA cakupan bantuan Beasiswa?

Beasiswa untuk mahasiswa/i diberikan selama jangka waktu Program Magister, dengan jangka waktu maksimum dua tahun. Beasiswa berjumlah 21.000 per mahasiswa/i untuk program pendidikan satu tahun (biaya perjalanan, biaya kuliah, tunjangan bulanan, akomodasi, dll) atau 42.000 per mahasiswa/i untuk  jangka waktu dua tahun.

Tunjangan untuk para akademisi akan diberikan untuk periode tiga bulan, yaitu sebesar 13.000 per orang (akomodasi, tunjangan bulanan, biaya perjalanan, dll.).

Beasiswa dibayarkan langsung kepada para penerima beasiswa melalui Konsorsium.

BAGAIMANA cara mengajukan permohonan?

Pengajuan permohonan untuk mengikuti Program Magister Erasmus Mundus dan mendapatkan Beasiswa Erasmus Mundus harus disampaikan langsung ke Konsorsium Magister Erasmus Mundus yang menawarkan program tertentu yang diminati. Surat permohonan tidak dapat diajukan ke Komisi Eropa.

Persyaratan khusus dan kriteria penerimaan (misalnya, hasil studi, kemampuan bahasa, dll) ditentukan oleh masing-masing konsorsium.  Persyaratan yang ditentukan antara satu konsorsium dengan konsorsium lainnya dapat saja berbeda.

Saat ini, terdapat 103 Program Magister Erasmus Mundus. Daftar Program-program Magister tersebut dapat diakses dari situs berikut ini:

http://ec.europa.eu/education/programmes/mundus/projects/index_en.html

Dianjurkan untuk mengunjungi situs tersebut secara teratur karena akan ada program-program baru tambahan.

KAPAN batas waktu pengajuan permohonan?

Batas waktu pengajuan permohonan untuk masing-masing Program Magister berbeda dan ditentukan oleh Konsorsium. Batas waktu dapat berkisar dari awal bulan Desember hingga akhir bulan Januari. Silakan klik situs masing-masing Program Magister untuk mendapatkan informasi lebih lanjut.

Setiap Program Magister Erasmus Mundus biasanya dimulai antara bulan Agustus dan November.

BAGAIMANA proses seleksi dilaksanakan?

  1. Konsorsium Magister Erasmus Mundus akan menyeleksi mahasiswa/i dan akademisi yang mengajukan permohonan berdasarkan atas Daftar Riwayat Hidup, prestasi studi dan akademik, motivasi, rekomendasi, kemampuan bahasa, dll
  2. Konsorsium mengusulkan daftar pemohon yang lulus seleksi ke Kantor Pusat Komisi Eropa di Brussels untuk mendapatkan persetujuan terakhir
  3. Komisi Eropa memberikan persetujuan atas seleksi tersebut dan memberikan hibah
  4. Konsorsium akan menyampaikan kepada para pemohon diterima atau tidaknya mereka dalam program pendidikan dan diberi atau tidaknya beasiswa (pemberitahuan tentang hasil penerimaan program pendidikan biasanya pada bulan Mei)

APA beasiswa Erasmus Mundus dapat berlaku untuk program magister lainnya?

Beasiswa Erasmus Mundus secara eksklusif ditujukan untuk Program-program Magister Erasmus Mundus. Dengan kata lain, beasiswa tersebut tidak berlaku untuk mahasiswa/i dan akademisi yang telah diterima oleh program magister lainnya di Eropa.

Akan tetapi, tidak semua mahasiswa/i yang mengikuti Program Magister Erasmus Mundus akan menerima Beasiswa Erasmus Mundus. Masing-masing anggota dari Konsorsium Magister Erasmus Mundus menentukan mahasiswa/i mana yang akan menerima beasiswa.

DI MANA saya bisa mendapatkan informasi lebih lanjut?

Sebelum menghubungi Komisi Eropa, Anda sangat dianjurkan untuk membaca daftar tanya-jawab (FAQ) yang terdapat pada situs berikut ini:

http://ec.europa.eu/education/programmes/mundus/faq/index_en.html

Kemungkinan besar Anda akan menemukan jawaban untuk pertanyaan Anda di sana.

Untuk mendapatkan informasi yang tidak tersedia di situs tersebut di atas, silakan menghubungi: Delegation-Indonesia-Erasmus-Mundus@ec.europa.eu

Maximize Your Study Efficiency on GMAT Prep

Let’s face it, studying is not fun. It’s usually something you struggle through, is discouraging, tedious and expensive, and requires faith that it will pay off in the end. Here’s the good news: it will pay off, but only if you do it correctly. These are some good rules to follow.

Start Early
Most people start studying between 1 month and 1 year before the GMAT. Remember, starting early doesn’t mean you necessarily have to study more, just over a longer period of time. I would suggest trying your first problem 4 – 6 months before test day. Set aside 2-3 hours a week in the beginning, and gradually ramp up your review. Despite what you may otherwise hear, it’s not a test for which you can easily cram.

Practice Tests
Take practice tests. Plan on taking about 5-7 over the course of your preparation. Don’t cheat by not doing the essay. Yes, I know, it’s annoying; I went though this too. But you have to practice reading long, boring passages after three hours of testing, not just after two. Think of these as scrimmages before the big game.

Learn Actively
Ever sit down to study, turn on music, pick up some coffee, IM friends, check your email, then realize you have to leave in 30 minutes? Great, so don’t do that. Instead, dedicate those couple hours to reviewing the topic at hand, and nothing more. Take copious notes of your trouble spots. Practice many similar questions at once. If you get a question wrong, attempt it a 2nd time before reviewing the explanation. Don’t read through the practice book passively and expect the information to be absorbed through sheer familiarity. If you can’t explain a topic to someone else, you don’t know it well enough.

Targeted Study
Without any (internal or external) feedback of your progress, study time is wasted. Instead, hone in on those nagging topics by giving them more attention. A passive studier goes through the textbook from page 1 to 300. An active (and ultimately more successful studier) creates a personalized “textbook” by assessing and reassessing his/her strengths and weaknesses and targeting their practice accordingly.

Many Small Goals
Each time you sit down to study, set a goal for that practice. This can be, “take notes on key points in Chapter 6,” “memorize these 4 formulas for these type of Quantitative questions,” or “practice and review all 30 sample questions in this section.” You will be more apt to focus and less inclined to justify stopping early or doing a cursory job. On a macro level, set longer-term goals to “get a 650 on my next practice test” or “review all probability questions by next Friday”. Most importantly, constantly reassess and redirect your targets. Maybe one section is giving you more trouble than another – don’t default to spending equal time on each topic because each has 20 practice questions to review.

Expert Help
Don’t expect your tutor or teacher to hold your hand. It may be tempting to drop $1,200 on a class and think you’re done. This will backfire. Trust me. If you do register for a course, show up ready to learn. Use it to identify material that’s confusing, and study that on your own. A more cost-effective approach is to only work with private instructors to target your weaknesses when you really need it. It avoids the fundamental “teach-to-the-middle” flaw of a classroom environment. Feel free to combine courses and private tutoring, but be prepared to spend some money. For private lessons, show up with problems that are troubling you and direct your instructor to your weaknesses. Your instructor cannot read your mind. The more you bring with you, the more he/she will be able to help. For example, instructors may customize practice sections ahead of time based on a student’s personalized analytics, but you are ultimately responsible for directing the study yourself. Intersperse these lessons throughout the course of your study so you have time to reassess where you’re at between each session.

The benefit of working hard while studying is that you ultimately have to do less of it. And when you sit down, do it right and actively, otherwise you are inefficient with your time and money.

Good Luck

Making Your MBA Application Stand Out

When you are ready to begin your business school application essays, you will need to first outline your story. Our clients go through a planned process to help pull out key messages that they would like to present. We begin by having our clients complete a “brag sheet.” This manuscript should complement your resume. If the resume is a solely professional document, the brag sheet is the opposite. It’s the manuscript that talks about who you are outside of your professional career. This discusses information about your family, passions, and your obstacles. You can make your own sheet by answering questions such as:

  • How many languages are you fluent in?
  • How many countries have you traveled to?
  • Does your family have any interesting traditions?
  • Have you encountered any significant obstacles in your life?
  • Do you have any patents?

Etc.

Once you have filled out your brag sheet, you can sort through it and select the themes that stand out. Would you consider yourself as a leader? An innovator? These attributes come together to create your overall brand. Once you have four to five attributes, you need to support them with something that companies call “reasons to believe.” The “reasons to believe” are your real-life examples. As you write your business school essays, you will need to use very specific stories to support your brand. When you discuss specific essay questions for a given MBA program, you can refer to your brand document and run through the list of stories to decide which stories fit in with which essays. Many stories are flexible and can provide evidence for a number of attributes. Once you have coordinated these stories to particular MBA essay questions, you are ready to begin writing your essays.

As An Example:

Brand Attribute 1: Excellent Communicator

Supporting Evidence:

1)    Founder of Toastmasters club

2)    Led incoming training class at JPMorgan

3)    Chosen as lead negotiator

Brand Attribute 2: Global Experience

Supporting Evidence:

1)    Worked in four continents over past four years

2)    Lived in six countries during adolescence

3)    Fluent in three languages

4)    Career interests focused on international expansion of current employer

For more robust guidance on your MBA application essays, check out the Stacy Blackman Consulting Essay Guide Series – school specific guides with essay tips, sample essays, information on what your target schools value and more.

How To Get The Most Out Of Your Test Prep

People prepare for the Test Prep (TOEFL/GMAT/GRE/SAT/IELTS/TOEIC) in many different ways.  Some use books to do practice questions on their own and of course, some take a class or have a private tutor.  There are few tips to the people in that last group, to help them get the most out of one-on-one time with their teacher or tutor (herein referred to as your Expert).

1. Come prepared!

If there’s any kind of background information that you should know before class, know it.  Preview reading or practice problems ensure that you’re coming to your lesson with the basic foundation of knowledge that you will build upon to master the skills being taught.  And homework regarding a lesson you’ve already learned will help cement the methods that have been demonstrated.  If you’re not sure what, if anything, you need to be doing, ask your Expert; he or she should be happy to clarify any issues regarding the type or amount of work you should do.

2. Ask the right questions.

Address specific queries than extremely general ones.  A great question is something like, “I’ve noticed that I have trouble locating sufficient assumptions, like the one in this sample.  Can you explain to me why choice C is the correct sufficient assumption, and not choice E?  And how can I apply that to other sufficient assumption questions?”  Expert will be able to offer much more productive feedback to that than to someone saying, “I have trouble with Critical Reasoning.  Can you give me some tips?”  Expert may have tips to offer, but without specific knowledge of your trouble areas, there’s no guarantee that expert will be giving you the kind of information that will help you as an individual test-taker.

3.  Take advantage of all the resources available to you.

In live classes, Experts often have time before or after class specifically set aside for questions.  Often, if you arrive 20 minutes early, you’ll find your Expert sitting, waiting for someone just like you to come in for help.  (The Expert may or may not be reading the newspaper or Facebooking while he or she waits, but will be more than happy to put that aside to answer your questions or discuss your concerns.)  Online learning tools also have potential applications that many people never fully explore.

4.  Don’t be afraid to look for clarification if something doesn’t make sense.

Just because one of your classmates understands the question doesn’t mean that you are expected to understand it the same way.  People learn differently, and sometimes all a student needs is for something to be explained in a different way.  That’s what the Experts are here for, so don’t be afraid to approach yours to ask him or her to try to reframe the issue for you.

5.  Finally, try to have some fun with the studying process!

Preparing for international exam often a rigorous experience, and your future is a serious thing.  But questions are sometimes funny, mistakes should be learned from and sometimes laughed off, and your Experts and fellow students could probably use a light moment as much as you could.  So remember that even as you’re working hard, you should take some time out to play, too.

To summarize, remember that your test prep is a collaboration between you, your fellow students, and your Expert.  Be proactive about your practice and about asking questions, and take advantage of the many ways that you can study for the exam.  And, finally, try to enjoy the process as much as you can, and remember to take time to relax a little!

Tips for Analytical Writing Section on GRE General Test

Pada GRE General test terdapat sesi Analytical Writing. Sesi test ini Mengukur pemikiran kritis dan penulisan yang analitis, khususnya kemampuan peserta untuk menjelaskan ide yang kompleks dengan jelas dan efektif.

Sesi ini terdiri dari dua jenis soal:

  1. Issue Writing Task
  2. Argument Writing Task

Keduanya meminta peserta test untuk menjawab soal berdasarkan tipe soal essay yang diberikan. Pada tipe issue writing task, peserta diminta untuk memberikan prespectiven-nya terhadap sebuah issue yang diberikan. Issue terdiri dari 2 elemen: a statement of your task dan 1-2 topik kalimat yang merupakan sebuah opini atas suatu issue. Statement of task peserta selalu dalam bentuk yang sama: “present your perspective on the following issue; use relevant reasons and/or examples to support your viewpoint.” Sedangkan tentang topik kalimat akan tampak seprtti ini: “The objective of science is largely opposed to that of art: while science seeks to discover truths, art seeks to obscure them.” Peserta bebas memberikan pernyataan persetujuan, penolakan atau memberikan penilaian baik-buruk sebuah statemen. Peserta harus memastikan bahwa bukti-bukti pendukung pernyataannya berasal dari “pengalaman, observasi, studi pustaka dan atau studi akademis”, dan bukan dari hal-hal yang fiktif atau karangan semata.

Berbeda dengan soal issue writing task, pada soal argumen task writing. Tugas peserta adalah untuk mengkritisi sebuah argumen berdasarkan alasan logis dan bukti kuat. Peserta tidak diperkenankan untuk menyatakan agreeing atau disagreeing tentang suatu pernyataan yang diberikan. Soal yang diberikan secara umum terdiri dari paragraph persuasive pada beberapa issue nyata di dunia. Peserta akan menemui sebuah argumen seperti “Americans should eat soy to prevent depression,” “The Mozart School of Music is the best of its kind because of x, y, and z,” dan “Grove College should preserve all-female education to improve morale among students and convince alumni to continue their support.” Setiap argumen memiliki alasan masing-masing yang mungkin tampak atau tidak tampak seperti sebuah pernyataan logis; inilah tugas peserta untuk menemukan kesalahan / kecacatan pada pernyataan tersebut dan memberikan alasan yang jelas serta persuasive. Ada beberapa hal kunci yang harus diperhatikan peserta di dalam menjawab argument task writing, yaitu:

  • Peserta tidak diminta untuk menyatakan persetujuan atau penolakan di dalam tulisannya.
  • Peserta harus menganalisa alasan dari sebuah argumen yang diberikan.
  • Peserta harus mempertimbangkan asumsi yang bisa dipertanyakan menggarisbawahi argumentsi.
  • Peserta harus mempertimbangkan luasnya bukti-bukti yang disajikan mendukung kesimpulan.
  • Peserta bisa mendiskusikan bukti-bukti tambahan yang dapat memperkuat atau membuktikan penyangkalan/kesalahan atas sebuah kalimat pernyataan.
  • Peserta bisa mendiskusikan tentang informasi tambahan , jika ada, yang dapat membantu peserta mengevaluasi sebuah kesimpulan argumen.

Berdasarkan ulasan di atas, maka diperlukan sebuah pelatihan khusus untuk mengetahui standar penulisan dalam issue task writing dan argument task writing yang baik dan benar sesuai dengan prosedur penilaian yang berlaku di dalam GRE General Test.

Di kebanyakan situs GRE Practice test, tidak menyediakan latihan soal-soal dan evaluasi untuk sesi analytical writing. Situs-situs tersebut kebanyakan hanya berfokus pada evaluasi soal-soal verbal dan quantitative sessions. Padahal sesi analytical writing juga penting dan menentukan kualifikasi seoaang peserta untuk bisa diterima di sebuah universitas di LN yang mempersyaratkan GRE score. Karena jika GRE score peserta program S2 misalnya mencapai 1200 (Verbal 600+quantitative 600), namun score analytical writing masih di bawah 4.5 (skala score 0 – 6), maka bisa menjadi alasan peserta tersebut ditolak aplikasinya oleh universitas tersebut. Karena rata-rata standar writing essay untuk memasuki program S2 paling sedikit harus memiliki analytical writing score 5.0 atau 5.5.

Oleh karena itu, sangat penting bagi peserta GRE General test untuk mengetahui standar kriteria dalam analytical writing scoring. Begitu juga perlunya latihan menjawab berbagai topik yang umum keluar di dalam GRE analytical writing tasks sehingga peserta akan terbiasa dan menjadi lebih siap dalam menjawab berbagai topik yang akan diberikan pada test yang sebenarnya.

TOEFL® PBT, Does it still exist?

Banyak sekali kebingungan yang masih tergambarkan di wajah para calon pelamar beasiswa atau penerima beasiswa. Kebingungan terjadi ketika mereka menerima syarat TOEFL score yang tertera pada lembar aplikasi dari Universitas yang bersangkutan. Syarat TOEFL score yang diberikan oleh Universitas di Luar Negeri, mayoritas menuliskan syarat “…menyertakanTOEFL PBT score atau TOEFL iBT score”. TOEFL PBT score yang mana yang sebenarnya diinginkan oleh Universitas tersebut? bukankah TOEFL PBT sudah tidak ada lagi karena sudah digantikan dengan iBT?

Perlu diketahui oleh seluruh civitas akademika, terutama di Indonesia, bahwa TOEFL PBT yang dimaksudkan oleh banyak Universitas di Luar Negeri adalah TOEFL PBT International resmi dari ETS. Baca tentang PBT dari ETS. Bukan PBT yang dibuat oleh lembaga-lembaga bahasa Inggris yang ada di Indonesia dan bukan pula ITP. Karena jika mereka mempersilahkan ITP score, maka mereka akan menuliskannya dengan “….TOEFL ITP score atau TOEFL PBT score atau TOEFL iBT score”.

TOEFL PBT di selenggarakan di wilayah negara yang di wilayah itu tidak terdapat iBT-TOEFL Center. Bagaimana dengan di Indonesia? Sayangnya.. PBT sudah tidak disediakan lagi di Indonesia, karena di Indonesia sudah terdapat banyak sekali iBT-TOEFL Center hampir di seluruh wilayah ibukota di Indonesia. TOEFL PBT masih terselenggara di Iceland, Iran, Iraq dan Israel. Dengan demikian untuk peserta beasiswa yang berasal dari Indonesia tidak memungkinkan untuk mengikuti TOEFL PBT di Indonesia. Maka, suka-tidak suka, mereka harus menyertakan TOEFL iBT Score.

Top Universities in U.K. Accept TOEFL® Scores

More than 135 top educational institutions in the U.K. — including the University of Cambridge, Imperial College London and the London School of Economics — accept TOEFL test scores, according to Educational Testing Service. The TOEFL® test is the world’s most popular English language exam.

According to the United Kingdom’s Higher Education Statistics Agency (HESA), China and India send the greatest number of students each year to study in the U.K. For these and many other countries, the TOEFL test is an essential part of the admission process.

The TOEFL test has been used for admissions by U.K. universities almost since its beginning in the early 1960s. Since that time, use of the TOEFL test has grown to the point where more than 6,000 institutions worldwide, including 4,300 colleges and universities in the United States, now use it to measure the English-language proficiency of international student applicants. It is also the only university admission exam delivered and scored over the Internet. Within the last two years alone, an additional 850 institutions have become TOEFL score users.

“For thousands of international students each year, the TOEFL test is an important part of the admissions process for acceptance at top universities in the United Kingdom,” says Philip Tabbiner, Senior Vice President of ETS Global, K–12 Learning & Development and Business Development. “Universities there have relied upon the TOEFL test for nearly 50 years, and we welcome the newest user — the University of Manchester School of Medicine.”

A complete list of institutions in the United Kingdom that use or require TOEFL scores is available at www.ets.org/toefl/ukdirectory.